PACITAN – Pengembangan industri kopi di Kabupaten Pacitan terus didorong melalui kolaborasi berbagai pihak, mulai dari petani sebagai produsen bahan baku hingga pelaku usaha yang menyajikan kopi langsung kepada konsumen. Upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Festival Kopi Pacitan 2026 yang melibatkan pelaku industri kopi dari hulu hingga hilir.
Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perindustrian (Dikopumin) Kabupaten Pacitan menggandeng petani kopi, pegiat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga pemilik kedai kopi atau coffee shop dalam festival tersebut.
Kepala Dikopumin Pacitan, Ali Mustofa, mengatakan keterlibatan berbagai elemen tersebut diharapkan mampu memperkuat sinergi dalam mengembangkan potensi kopi lokal. Tidak hanya itu, festival ini juga menjadi sarana memperluas promosi sekaligus memperkuat ekosistem industri kopi di Pacitan.
Menurut Ali, rantai industri kopi dimulai dari sektor pertanian yang menghasilkan biji kopi. Selanjutnya, biji kopi diolah oleh pelaku UMKM menjadi produk siap seduh, seperti roasted bean. Produk tersebut kemudian disajikan oleh pelaku usaha coffee shop kepada konsumen.
“Hulu itu dari pertanian, para petani yang memiliki produk biji kopinya. Kemudian yang di tengah itu teman-teman pegiat UMKM yang memproses biji kopi menjadi roast bean. Kemudian kita juga melibatkan teman-teman coffee shop yang memang menyajikan langsung kepada konsumen,” terang Ali kepada media.
Selain melibatkan pelaku industri kopi, Festival Kopi Pacitan 2026 juga menghadirkan kompetisi menyeduh kopi menggunakan metode manual brew. Menariknya, kompetisi tersebut diikuti oleh para kepala organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pacitan.
Ali mengungkapkan, para peserta telah menjalani sejumlah latihan sebelum mengikuti kompetisi. Persiapan tersebut diperlukan karena metode penyeduhan manual, khususnya teknik V60, membutuhkan keterampilan dan ketelitian tersendiri.
“Karena metode V60 itu metode manual brew yang di rumah kita belum biasa menggunakan. Biasanya kita kan menggunakan kopi tubruk. Kopi bubuk, langsung diaduk,” ujarnya.
Untuk mempersiapkan kompetisi tersebut, pihaknya mengaku telah beberapa kali menggelar latihan bagi para kepala OPD yang berpartisipasi.
“Nah, memang ada beberapa kali kita menyelenggarakan latihan untuk teman-teman kepala OPD,” tambahnya.
Ali berharap Festival Kopi Pacitan dapat diselenggarakan secara rutin setiap tahun. Dengan begitu, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang promosi produk kopi lokal, tetapi juga mampu memperkuat identitas kopi Pacitan dan memperluas jangkauan pemasarannya.
Melalui kolaborasi antara petani, pelaku UMKM, pemilik kedai kopi, serta pemangku kepentingan lainnya, potensi kopi Pacitan diharapkan semakin berkembang. Sinergi tersebut sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk meningkatkan nilai tambah produk dan memperkuat daya saing industri kopi daerah.












