Di lingkungan bermasyarakat, hampir semua orang memiliki semacam reputasi atau tingkat hierarki sosial yang tak kasat mata. Semua orang memiliki kotak yang membungkus mereka, tak lupa dengan label besar yang melekat dengan bungkus tersebut. Biasanya reputasi didapatkan saat kita melakukan pola-pola berulang secara tidak sadar. Otak manusia cenderung menangkap informasi tersebut menjadi sebuah gambaran singkat, yang mana gambaran tersebut akhirnya malah menjadi semacam lensa yang digunakan orang lain untuk menafsirkan perilaku seseorang.
Bayangkan jika ada siswa yang dikenal pendiam. Saat ia tidak menyapa orang lain, siswa itu akan lebih mudah dianggap tidak sopan. Sebaliknya jika ada siswa yang dikenal vokal mungkin dianggap hanya sedang lelah ketika melakukan hal yang sama. Perilakunya bisa saja serupa, tetapi interpretasi orang terhadapnya akan berbeda karena label yang sudah melekat sebelumnya.
Sebagai contoh yang terjadi pada lingkup ruang yang lebih luas. Ketika seseorang sudah mendapat reputasi “berbeda” dengan konotasi negatif, perilaku yang sebenarnya biasa saja dapat lebih mudah dianggap aneh atau cringe. Ketika ia terlalu bersemangat membicarakan sesuatu yang disukainya, misalnya, orang mungkin menganggapnya berlebihan. Respon mereka akan lebih cepat untuk berkata, “Apaan sih?”, Namun, jika perilaku yang sama dilakukan oleh seseorang yang memiliki reputasi lebih positif atau status sosial yang lebih tinggi, respons orang lain bisa saja berbeda: sesuatu yang dianggap “cringe” pada satu individu dapat dianggap “lucu” atau “gemas” pada orang lain berdasarkan label yang melekat pada mereka.
Menariknya, kecenderungan ini tidak hanya terjadi pada satu kelompok. Orang yang merasa dirinya sering distereotipkan juga dapat membentuk stereotipe terhadap kelompok lain. Seseorang yang merasa tidak cocok dengan lingkungan yang dianggap mainstream, misalnya, dapat mulai menganggap orang-orang yang disebut “normies” sebagai dangkal, tidak punya kepribadian, atau suka menghakimi sebagai bentuk pertahanan diri. Pada akhirnya, kedua pihak dapat saling melihat satu sama lain melalui label yang telah mereka bentuk.
Lalu, mengapa manusia begitu mudah melakukan hal tersebut?
Mengapa kita merasa perlu mengubah manusia yang kompleks menjadi kategori-kategori atau kotak kotak yang dangkal?
Salah satu alasannya berkaitan dengan cara manusia memproses informasi. Dunia di sekitar kita sangat kompleks, sedangkan kemampuan perhatian dan pemrosesan informasi manusia itu terbatas. Karena itu, kita cenderung menggunakan jalan pintas mental atau cognitive shortcuts agar dapat memahami sesuatu dengan lebih cepat dan efisien. Dalam psikologi sosial, kecenderungan ini sering dikaitkan dengan gagasan cognitive miser: manusia cenderung menghemat sumber daya kognitif ketika menghadapi informasi yang sangat banyak atau kompleks. Otak kita mencari cara yang tercepat agar kita merasa nyaman dan tidak merasa harus berpikir sampai ke detail terkecil.
Pada awalnya, hal ini tidak selalu buruk. Label dapat membantu kita berkomunikasi dan memahami pola tertentu. Masalah muncul ketika label yang seharusnya hanya menjadi sebuah kategori berubah menjadi kesimpulan mutlak atas identitas seseorang.
Label juga dapat memengaruhi cara seseorang diperlakukan. Ketika orang lain memiliki ekspektasi tertentu terhadap seseorang, mereka dapat memperlakukannya berdasarkan ekspektasi tersebut. Dalam kondisi tertentu, perlakuan dan ekspektasi ini kemudian dapat memengaruhi perilaku orang yang bersangkutan. Fenomena semacam ini dikenal sebagai self-fulfilling prophecy.
Contohnya dapat terjadi di lingkungan pendidikan. Jika seorang guru menganggap kelompok siswa tertentu kurang mampu secara akademis, guru tersebut mungkin tanpa sadar memberikan ekspektasi atau kesempatan yang lebih kecil kepada mereka. Perlakuan tersebut kemudian dapat memengaruhi pengalaman dan performa siswa. Akhirnya, hasil yang muncul seolah-olah membenarkan anggapan awal dari guru tersebut.
Hal serupa juga dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang terus-menerus disebut “pendiam” mungkin akhirnya merasa bahwa orang lain memang tidak menginginkannya berada dalam percakapan dan “tidak diajak”. Ia menjadi semakin ragu untuk memulai interaksi, sehingga orang lain justru semakin melihatnya sebagai seseorang yang sulit didekati.
Lalu, apakah berarti kita harus berhenti menggunakan label? Apakah label itu selalu buruk? Jawabannya tidak.
Label tetap memiliki fungsi dalam kehidupan manusia. Dalam komunikasi dan ilmu pengetahuan, kategori dapat membantu kita menjelaskan sesuatu yang kompleks. Diagnosis dalam bidang medis dan psikologi, misalnya, dapat membantu para profesional memahami pola tertentu dan menentukan bentuk penanganan yang sesuai.
Jadi masalahnya bukan terletak pada keberadaan label, melainkan pada cara kita memperlakukannya, dan bagaimana cara kita agar tidak merubah label menjadi stereotipe.
Seseorang mungkin tidak akan lepas dari label melalui kacamata seseorang, tetapi tidak satu pun dari kata-kata tersebut mampu menjelaskan seluruh dirinya. Manusia selalu lebih luas daripada label yang diberikan kepadanya.
Kita selalu lebih dari sekadar kotak-kotak kecil yang diberikan dunia kepada kita. (tim)
Penulis: Carissa Luveena Olivia
kelas 12/12
SMAN 1Ponorogo


