Berawal dari 170 Baglog, Pasutri di Wonoanti Pacitan Kini Kelola 25 Ribu Baglog Jamur Tiram

Pacitan (kubaca.com) – Ketekunan dan kerja keras membuahkan hasil manis bagi pasangan suami istri Imam Samsudin (34) dan Ismawati Widiarsih (32), warga Dusun Krajan, Desa Wonoanti, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan. Dari usaha kecil dengan hanya 170 baglog jamur tiram, kini mereka mampu mengelola sekitar 25 ribu baglog dan mempekerjakan tiga orang karyawan.

Imam mengawali usaha budidaya jamur tiram dengan membeli 170 baglog yang dibudidayakan di sebuah bangunan rumah bekas. Seiring berjalannya waktu, ia terus belajar membuat baglog sendiri hingga berhasil memproduksi 130 baglog secara mandiri.

“Awalnya cuma sedikit membeli 170 baglog, ternyata berhasil sambil terus belajar akhirnya bisa membuat baglog sendiri,”kata Imam Rabu (24/6/2026)

Hasil panen awalnya dijual ke pasar tradisional dan ditawarkan kepada teman-teman. Namun permintaan terus meningkat hingga datang dari berbagai kalangan, mulai pedagang sayur keliling, pasar tradisional, hingga warga yang membeli langsung ke lokasi budidaya.

“Sekarang permintaan semakin banyak tidak habya jamur tapi juga lognya,” kata Imam.

Kegigihan Imam dalam mengembangkan usaha membuahkan hasil. Dari keuntungan yang diperoleh, ia mampu membeli berbagai peralatan produksi, termasuk tungku untuk proses pembuatan baglog. Pada tahun 2022, usahanya juga mendapatkan bantuan alat pengaduk bahan dari pemerintah.

 

Saat ini, setiap hari Imam mampu memanen jamur tiram putih antara 70 hingga 90 kilogram. Jamur tersebut dijual dengan harga sekitar Rp20 ribu per kilogram. Produk hasil budidayanya dipasarkan ke Pasar Minulyo Pacitan, Pasar Lorok, sejumlah minimarket, hingga pelanggan tetap di berbagai wilayah.

 

Salah seorang pelanggan, Franky Karisma, mengaku lebih memilih membeli jamur langsung dari tempat produksi karena kualitasnya lebih terjamin.

 

“Kalau beli langsung di sini jamurnya masih sangat segar dan kadar airnya sedikit. Rasanya juga lebih enak saat dimasak,” ujar Franky yang saat itu membeli setengah kilogram jamur untuk kebutuhan memasak di rumah.

 

Tak hanya menjual jamur segar, Imam juga memproduksi dan menjual baglog untuk para petani pemula yang ingin memulai usaha budidaya jamur tiram. Baglog tersebut dipasarkan dengan harga Rp3.000 per buah.

 

Meski usaha terus berkembang, Imam mengaku menghadapi kendala dalam memperoleh bahan baku serbuk gergaji yang menjadi komponen utama pembuatan baglog. Menurutnya, sebagian besar serbuk gergaji kini terserap untuk kebutuhan bahan bakar di PLTU Jatim 1 Sudimoro, Pacitan.

 

Namun di balik kesulitan tersebut, baglog bekas atau afkir dari usahanya justru memiliki nilai ekonomi tambahan karena dapat dijual kembali melalui pengepul untuk disuplai ke PLTU.

Dengan dukungan sang istri dan tiga karyawan, Imam optimistis usaha budidaya jamur tiram yang dirintis dari skala kecil tersebut akan terus berkembang dan mampu menjadi sumber penghidupan bagi lebih banyak masyarakat di sekitarnya. (akz)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *