Pacitan (Kubaca.com) – Memasuki akhir Juni 2026, kondisi musim kemarau di Kabupaten Pacitan mulai menunjukkan peningkatan. Berdasarkan rilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Pacitan masuk kategori waspada setelah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) selama 21 hari berturut-turut.
Secara umum, sejumlah wilayah di Jawa Timur saat ini telah memasuki musim kemarau dengan intensitas hujan yang semakin berkurang. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah, terutama terkait potensi kekeringan dan krisis air bersih di sejumlah wilayah rawan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pacitan, Erwin Andriatmoko, mengatakan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan maupun permintaan bantuan distribusi air bersih dari masyarakat.
“Alhamdulillah sampai saat ini belum ada permintaan bantuan air bersih dari masyarakat,” kata Erwin Jum’at 26/6/2026).
BPBD Pacitan sebelumnya telah memetakan sebanyak 33 desa dan 97 dusun di delapan kecamatan yang berpotensi mengalami kekeringan saat musim kemarau. Namun demikian, Erwin menegaskan pihaknya tidak sepenuhnya berpatokan pada data tersebut.
Menurutnya, kondisi sumber air di lapangan dapat berubah setiap tahun sehingga tingkat kerawanan kekeringan perlu diperbarui secara berkala.
“Data tersebut hanya sebagai acuan. Kondisi kedalaman dan ketersediaan sumber air tidak ada yang tahu pasti karena bisa berubah setiap tahun,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi dampak kemarau yang lebih panjang, BPBD telah mengirimkan surat kepada seluruh kecamatan dan pemerintah desa agar melakukan pemetaan ulang wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan pada tahun ini. (AKZ)